Mengawasi Demokrasi di Tengah Gelombang Politik Sarat Intrik

Blitar, Ambisi Manusia - Pemilu selalu menjadi ajang bagi rakyat Indonesia untuk menyuarakan aspirasinya dalam menentukan pemimpin masa depan. Namun sayangnya, dibalik euforia pesta demokrasi ini terkadang tersembunyi banyak intrik yang dapat menggerus makna sejati Pemilu.

 

[Foto: Baliho sebagai kampanye partai politik] 

Rutinitas kampanye politis memang selalu diwarnai banyak janji gemilang demi meraih simpati masyarakat. Spanduk bertebaran, orasi membahana, akun media sosial dipoles sedemikian rupa untuk meyakinkan publik. Namun sayang, tak jarang janji-janji itu hanya menjadi kamuflase untuk menutupi kejahatan demokrasi yang lebih serius – politik uang dan serangan fajar.

 

“Tawaran uang, barang, atau bentuk imbalan lain kepada pemilih merupakan tindakan tercela dan merusak nilai demokrasi yang seharusnya didasarkan pada kedaulatan rakyat yang bebas,” tegas Titi Anggraini, Komisioner KPU. (Sumber: Detik, 2024)

 

[Foto: Petugas KPU melakukan sosialisasi anti politik uang]

 

“Sebuah negara yang didirikan di atas pondasi politik uang, tak ubahnya sebuah rumah yang dibangun di atas rawa. Ia akan dengan mudah runtuh saat diterpa badai,” tutur Ramlan Surbakti, intelektual politik terkemuka. Berdasarkan survei Charta Politika, 30% pemilih mengakui menerima “amplop” dalam Pemilu lalu. (Sumber: Republika)

 

Di sisi lain, berita bohong, fitnah, dan serangan negatif pada lawan politik juga semakin marak, bahkan kerap kali dilansir media besar. Masyarakat seakan tercemar benih-benih kebencian yang membutakan mata mereka dari fakta. “Demokrasi yang sehat tak akan bisa dibangun di atas umpan-umpan emosi kebencian,” tegas Mochtar Buchori, pengamat senior. (Sumber: Media Indonesia)

 

[Foto: Peran media massa dalam menyebarkan berita hoax]

 

Di tengah gerimis intrik ini, masyarakat dituntut untuk tetap kritis dan bijak dalam berdemokrasi. Setiap warga negara harus menolak tegas segala bentuk politik uang dan hindari provokasi yang menyulut kebencian. Fokus untuk mencermati kinerja nyata para calon dan gunakan hati nurani untuk memilih yang terbaik bagi Indonesia.

 

[Foto: Masyarakat menggunakan hak pilihnya di TPS]


Hanya dengan integritas demokrasi yang terjaga, Indonesia bisa maju meninggalkan intrik dan menapak pada kemajuan sejati. Masa depan negeri ini ada di tangan kita semua melalui kontribusi aktif warga negara dalam menjunjung tinggi asas Pemilu – jujur, adil, dan bermartabat.

 

Daftar Pustaka:

1. Surbakti, Ramlan. (2024). “Politik Uang Harus Diberantas Habis-Habisan.” Republika, 15 Februari 2024.

2. Buchori, Mochtar. (2023). “Ancaman Serangan Fajar bagi Demokrasi.” Media Indonesia, 2 Januari 2023.

3. Charta Politika. (2023). “Survei Politik Uang Pemilu 2024.” Diakses pada 20 Februari 2024.

4. Anggraini, Titi. (2024). “KPU Tegas Menolak Politik Uang.” Detik, 18 Februari 2024.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Orang Jawa Tidak Duduk di Ambang Pintu? Makna Filosofis, Etika Sosial, dan Nilai Budaya di Baliknya

Konde: Simbol Kedewasaan dan Etika Perempuan Jawa

Mengapa Orang Jawa Berbicara Halus?